Bencana Banjir-Longsor di Aceh-Sumut-Sumbar, Korban Meninggal Capai 442 Jiwa
Bencana Banjir-Longsor di Aceh-Sumut-Sumbar, Korban Meninggal Capai 442 Jiwa. Presiden Prabowo Subianto saat meninjau jembatan terdampak banjir di Kutacane, Kabupaten Aceh Tenggara, Senin (01/11/2025). -BPMI Setpres-
![]()
AspirasiNews.id, Silangit- Berdasarkan data sementara, total korban meninggal dunia akibat bencana hidrometeorologi di Aceh, Sumut (Sumatera Utara) dan Sumbar (Sumatera Barat) mencapai 442 jiwa, dan 402 jiwa, masih dinyatakan hilang. Tim gabungan BNPB, TNI/Polri, Basarnas, kementerian/lembaga serta pemerintah daerah, terus bekerja mempercepat operasi pencarian, pertolongan, logistik, dan pembukaan akses wilayah terdampak.
Demikian disampaikan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Dr Suharyanto SSos MM. Informasi in dikemukakanya saat konferensi pers, yang digelar di Pos Pendukung Nasional, Bandara Silangit, Tapanuli Utara, Minggu (30/11/2025).

Secara keseluruhan di Indonesia, periode Januari-November 2025, BNPB mencatat kasus bencana. Tercatat ada 2.987 kali, dengan korban meninggal 1.064 orang, hilang 538 orang, luka-luka 3.327 orang, dan harus mengungsi/menderita akibat bencana 9.937.598 orang.
Menurut Suharyanto, di Sumatera Utara tercatat 217 jiwa meninggal dunia. Data ini diperoleh, setelah tim pencarian dan pertolongan (Search and Rescue-SAR), kembali menemukan korban yang kemarin dinyatakan hilang. Korban meninggal dunia ini tersebar di Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Kota Sibolga, Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, Pakpak Barat, Kota Padang Sidempuan, Deli Serdang, dan Nias.
Kemudian untuk korban hilang, juga mengalami peningkatan. Yakin menjadi 209 orang, setelah banyak yang melaporkan kehilangan keluarga, kepada petugas di tiap-tiap posko daerah.
“Korban jiwa, untuk Sumatra Utara ada 217 yang meninggal dunia, kemudian 209 yang masih hilang,” jelas Suharyanto.
Sementara itu, pengungsi tersebar di beberapa titik. Antara lain 3.600 jiwa di Tapanuli Utara, 1.659 jiwa di Tapanuli Tengah, 4.661 jiwa di Tapanuli Selatan. Kemudian 4.456 jiwa di Kota Sibolga, 2.200 jiwa di Humbang Hasundutan, dan 1.378 jiwa di Mandailing Natal.

Akses darat, di beberapa kabupaten masih terputus, akibat longsor dan kerusakan jembatan. Di Tapanuli Utara, jalan Tarutung–Sibolga terputus di sejumlah titik. Selanjutnya ada sejumlah desa di Parmonangan dan Adiankoting masih belum dapat dijangkau. Sehingga mengakibatkan dengan total lebih dari 12.000 jiwa terdampak.
“Untuk Tarutung-Sibolga ini, masih normalisasi. Yang bisa ditembus alat berat ini 40 kilometer,” kata Suharyanto.
Di Mandailing Natal, jalur Singkuang–Tabuyung serta ruas Batang Natal–Muara Batang Gadis terputus, pada beberapa titik. Sehingga sejumlah kecamatan terisolasi. Di Tapanuli Tengah, pembersihan material longsor terus dilakukan. Terutama pada berbagai ruas jalan nasional Sibolga–Padang Sidempuan, Sibolga–Tarutung, serta jembatan yang rusak di beberapa titik.
Penyaluran Logistik
Pengiriman logistik tahap pertama, untuk Kota Sibolga, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Tapanuli Utara, dan Humbang Hasundutan telah mencapai 100%. Penyaluran ke Mandailing Natal, Kota Gunung Sitoli, dan Nias Selatan masih terkendala akses darat.
Sebagai solusi, pengiriman udara masih dilanjutkan, menggunakan tiga helikopter BNPB dan TNI-AD. Termasuk distribusi sembako, peralatan dapur, BBM, genset, dan perangkat komunikasi berbasis satelit seperti Starlink. Beberapa sorti udara, juga ditujukan khusus untuk wilayah terisolasi. Seperti Sopotinjak dan Muara Siabu.
Dukungan Pemerintah Pusat dan Alutsista
BNPB mengerahkan 20 personel di Tapanuli Utara dan Tapanuli Tengah, serta dukungan TNI/Polri mencapai 500 personel di Tapanuli Tengah. Presiden-RI juga mengirimkan bantuan berupa 33 unit alat komunikasi, 33 unit genset, 14 unit LCR, 750 dus Pop Mie, serta 129 unit tenda.

Total lima helikopter perbantuan BNPB dan TNI telah beroperasi, dari Bandara Silangit, bersama pesawat Caravan. Juga ada alat berat dari berbagai instansi, untuk pembukaan akses menuju desa yang masih terisolasi.
Provinsi Aceh
Beralih ke Provinsi Aceh, hingga sore ini, tercatat 96 jiwa meninggal dunia, dan 75 jiwa hilang. Data ini tersebar di Bener Meriah, Aceh Tengah, Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Tenggara, Aceh Utara, Aceh Timur, Lhokseumawe, Gayo Lues, Subulussalam, dan Nagan Raya. Jumlah pengungsi mencapai 62.000 KK di berbagai kabupaten/kota.
“Aceh korban jiwa meninggal dunia menjadi 96, hilang 75 jiwa. Ini ada di 11 kabupaten/kota,” beber Kepala BNPB.

Kondisi Akses dan Transportasi
Sejumlah jalur utama, masih terputus total. Termasuk perbatasan Sumut–Aceh Tamiang, jembatan Meureudu di perbatasan Pidie Jaya–Bireuen. Kemudian jalan nasional di Gayo Lues, Aceh Tengah, dan Bener Meriah juga kondisinya sama. Akses Subulussalam–Aceh Selatan masih tergenang, tanpa jalur alternatif. Pemerintah pusat, melalui Kementerian PUPR terus melakukan percepatan perbaikan infrastruktur vital di beberapa area terdampak tersebut.
Telekomunikasi dan Logistik
BNPB mengaktifkan perangkat komunikasi darurat Starlink. Yakni untuk lokasi di Gayo Lues, Aceh Tengah, Bener Meriah, Lhokseumawe, dan Aceh Tamiang. Sementara mobilisasi perangkat ke wilayah lain, masih berlangsung.
Sebanyak 11 dari 17 kabupaten/kota terdampak, telah menerima bantuan logistik. Operasi udara dari Lanud SIM (Sultan Iskandar Muda), telah melakukan lima sorti. Sementara, pengiriman dari Kualanamu dan jalur laut juga terus berjalan.
Bantuan Presiden, berupa 28 unit Starlink, 28 genset, 20 perahu karet, serta paket makanan dan tenda. Kesemuanya telah diterima, dan sebagian didistribusikan. Penguatan buffer stock juga disiapkan, untuk kebutuhan respons lanjutan.
Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) menggunakan pesawat Cessna Caravan telah dijalankan. Tiga helikopter TNI dan satu helikopter yang berada di Kualanamu dikerahkan. Yakni untuk pengiriman logistik ke wilayah yang terputus akses daratnya.
“Hari ini, kita lihat di lapangan. Cuacanya cerah ya,” ujar Suharyanto.
Provinsi Sumatera Barat
Sedangkan di Sumatera Barat, tercatat 129 jiwa meninggal dunia, 118 hilang, dan 16 luka-luka. Korban tersebar di Kabupaten Agam, Kota Padang Panjang, Kota Padang, Padang Pariaman, Tanah Datar, Pasaman Barat, Pasaman, Solok, Kota Solok, dan Pesisir Selatan. Total pengungsi mencapai 11.820 KK atau 77.918 jiwa, dengan konsentrasi terbesar di Kota Padang dan Kabupaten Pesisir Selatan.
“Ini korban jiwa meninggal dunia 129, kemudian yang hilang 118 dan 16 luka-luka,” beber Suharyanto.
Akses dan Transportasi
Sejumlah ruas jalan provinsi, dan nasional terputus. Termasuk ruas Koto Mambang–Balingka, Pasar Baru–Alahan Panjang, Panti–Simpang-4, serta jalan nasional Padang Panjang–Sicincin dan Simpang Taman–batas Lubuk Sikaping. Upaya pembukaan akses terus dilakukan, agar distribusi bantuan dapat menjangkau seluruh titik terdampak.
“Secara umum, masih bisa dilalui lewat jalur darat,” ujar Suharyanto.
Logistik dan Dukungan Pemerintah
Bantuan logistik ke Padang Pariaman, dan Pesisir Selatan telah tiba. Sementara delapan titik lainnya, dalam perjalanan, dan dikawal oleh Polda Sumbar. Pengiriman logistik tahap dua, sebanyak 120 ton tengah dilakukan melalui jalur darat.
Penanganan di Sumatera Barat, dipimpin oleh Sestama BNPB. Dengan dukungan 24 personel di berbagai kabupaten/kota. Bantuan Presiden berupa 39 unit Starlink, 39 genset, tenda, LCR, dan 2.000 dus mie instan telah tiba di Bandara Minangkabau.
BNPB mengerahkan pesawat Caravan 208-B, dan helikopter Bell-505. Untuk mendukung mobilisasi logistik. khususnya menuju wilayah yang masih tertutup akses darat. Proses mobilisasi helikopter tambahan, juga sedang berjalan.
BNPB bersama TNI/Polri, kementerian/lembaga, pemerintah daerah, relawan, dan mitra internasional terus bekerja maksimal. Untuk mempercepat pencarian korban, pembukaan akses, pemulihan layanan vital, serta pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat. Update perkembangan penanganan akan disampaikan secara berkala. (***)
Sumber: Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB
