Komisi-III DPRD Kaltim Gelar PPD, Angkat Pemerintahan dan Nilai Budaya Bangsa
Komisi-III DPRD Kaltim Gelar PPD, Angkat Pemerintahan dan Nilai Budaya Bangsa
![]()

AspirasiNews.id, Kutim- Diskusi politik tak melulu di gedung dewan. Malam itu, Café Mbak You, di Desa Sepaso Barat, Kutai Timur (Kutim), disulap menjadi ruang kelas politik, yang hangat.
Sekitar 70 peserta, didominasi oleh kaum ibu, menghadiri kegiatan Penguatan Demokrasi Daerah (PDD) ke-9, pada Selasa (7/10/2025). Dengan tema yang diangkat pun menarik, yakni “Kepemerintahan yang Baik Bersumber dari Nilai Budaya Bangsa”.

Anggota Komisi-III DPRD Kalimantan Timur (Kaltim), H Arfan SE MM, hadir sebagai pemateri utama. Dia menekankan, bahwa pendidikan politik harus digalakkan. Terutama bagi kaum ibu, sebagai garda terdepan dalam keluarga, dan masyarakat.
“Kegiatan ini dihadiri khusus oleh ibu-ibu. Materi yang kita bahas, berkaitan dengan pendidikan politik, dan pemerintahan yang baik, yang bersumber dari nilai budaya bangsa. Nanti kita pertajam, dalam diskusi,” jelas H Arfan, Wakil Ketua Fraksi PAN-NasDem DPRD Kaltim ini.
Ditekankan Arfan, bahwa tema yang diangkat menyiratkan pernyataan peran ibu-ibu. Yakni lebih jauh melampaui urusan domestik. Melainkan, kunci dalam mewujudkan good governance atau tata kelola pemerintahan yang baik.
Senada dengan H Arfan, Anshar Adasa MH, akademisi yang turut hadir, sebagai pemateri menegaskan. Bahwa pemahaman politik, adalah kewajiban semua lapisan masyarakat. Termasuk kaum perempuan.
“Ibu-ibu tidak jarang melakukan gerakan politik. Dalam negara, pemerintah adalah fungsi negara. Karena itu, pemahaman tentang indikator pemerintahan yang baik, perlu dikuasai,” terang Anshar.
Anshar kemudian membeberkan, ada empat ciri utama pemimpin yang layak didukung. Diantaranya, kompetensi, integritas, komitmen terhadap rakyat. Kemudian memiliki visi yang berpihak pada kepentingan masyarakat.
Dia menambahkan, pemimpin yang baik, harus mampu memberi solusi konkret. Terutama dari masalah sosial, seperti narkoba. Hingga penguatan lembaga pendidikan, seperti pesantren.
Sesi diskusi membuktikan, bahwa ibu-ibu bukan hanya pendengar pasif. Tetapi juga aktor yang kritis. Salah satu peserta, Hera, langsung menyampaikan aspirasi yang mewakili mayoritas. Yaitu fokus pada pendidikan.
“Kami berharap, pendidikan benar-benar gratis, dan dapat dijangkau semua kalangan. Ibu-ibu lebih mementingkan pendidikan anak-anaknya, daripada kepentingan pribadi,” ungkap Hera, memberikan statement kuat mengenai prioritas mereka sebagai srikandi dari daerah.
Kegiatan ini pun, ditutup dengan penegasan komitmen bersama. Yakni untuk mewujudkan pemerintahan yang berintegritas, dan berlandaskan budaya bangsa. Hal tersebut, menjadikan Café Mbak You malam itu sebagai saksi penguatan nilai demokrasi lokal. (Adv/DPRD Kaltim)
