24/04/2026

DPRD Kaltim Minta BGN Tawarkan Insentif, Agar Swasta Mau Terlibat Bangun SPPG

0
DPRD Kaltim Minta BGN Tawarkan Insentif, Agar Swasta Mau Terlibat Bangun SPPG

DPRD Kaltim Minta BGN Tawarkan Insentif, Agar Swasta Mau Terlibat Bangun SPPG. Sekretaris Komisi-IV DPRD Kaltim, Muhammad Darlis Pattalongi

Loading

Iklan Benner DPRD Kaltim 2025

AspirasiNews.id, Samarinda- Program pembangunan 350 unit Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kalimantan Timur (Kaltim), oleh Badan Gizi Nasional (BGN), dipandang penting. Agar meningkatkan kualitas gizi masyarakat. Namun, DPRD Kaltim mengingatkan, adanya potensi hambatan serius. Jika sektor swasta tidak diberi insentif yang memadai, agar ikut serta.

Sekretaris Komisi-IV DPRD Kaltim, Muhammad Darlis Pattalongi, menilai. Partisipasi swasta pada program ini, sangat bergantung pada daya tarik investasi.

Bankkaltimtara KUR Syariah 2024
Bankkaltimtara KUR Syariah

“Secara konsep, rencana ini tentu sangat positif. Namun, jika tidak ada daya tarik investasi yang memadai, khususnya dari sisi insentif. Tentu sulit bagi pelaku usaha, agar turut ambil bagian. Perhitungan ekonomi mereka sangat detail, dan dana yang dianggarkan saat ini belum mencukupi. Terutrama dalam membangun dapur penyedia layanan gizi gratis, dengan standar yang dibutuhkan,” jelas Darlis, Sapaan akrabnya, pada Sabtu (16/8/2025).

Darlis menilai, tantangan akan semakin besar, jika pembangunan diarahkan ke daerah terpencil. Menurutnya, biaya logistik dan keterbatasan infrastruktur, harus diperhitungkan sejak tahap perencanaan.

“Kawasan perkotaan, kemungkinan masih bisa berjalan. Namun, jika dibangun di daerah terpencil, dibutuhkan tambahan fasilitas pendukung, dan biaya distribusi yang besar. Anggaran yang tersedia saat ini, jelas belum mencakup kebutuhan tersebut,” kata Darlis.

Menurut pihaknya, meski sebagian pelaku usaha menyambut baik inisiatif SPPG. Namun, persyaratan teknis yang terlalu ketat, dan pembiayaan minim, membuat keterlibatan mereka belum maksimal.

“Dengan pembiayaan per porsi yang hanya Rp15 ribu, di mana Rp10 ribu dialokasikan pada bahan pangan, dan Rp5 ribu biaya operasional. Ini akan sangat sulit, jika desain teknisnya tetap kaku. Kondisi ini, membuat sektor swasta enggan terlibat, karena margin keuntungannya sangat tipis,” beber Darlis, Legislator dari PAN ini.

Darlis mendorong BGN, untuk merevisi aspek pembiayaan, dan model pembangunan. Dia mengusulkan, standar yang lebih fleksibel, berbeda antara wilayah urban dan rural. Jadi desain modular seharusnya yang disesuaikan dengan kondisi setempat.

“Standar pembangunan, seharusnya dibuat modular dan disesuaikan dengan konteks wilayah masing-masing. Dengan regulasi yang lebih fleksibel, dan skema pendanaan yang disesuaikan. Saya optimistis, akan lebih banyak pihak swasta yang bersedia, turut berpartisipasi,” saran Darlis. (Adv/DPRD Kaltim)

Tinggalkan Balasan