20/04/2026

Sigit Sebut BPJS dan Beasiswa Gratis Belum Cukup, Jika Pelayanan Masih Diskriminatif

0
Sigit Sebut BPJS dan Beasiswa Gratis Belum Cukup, Jika Pelayanan Masih Diskriminatif

Sigit Sebut BPJS dan Beasiswa Gratis Belum Cukup, Jika Pelayanan Masih Diskriminatif. Anggota Komisi-II DPRD Kaltim, Sigit Wibowo

Loading

Iklan Benner DPRD Kaltim 2025

AspirasiNews.id, Samarinda- Program jaminan kesehatan gratis, seperti BPJS, dan bantuan pendidikan, tidak akan berdampak maksimal. Jika tidak dibarengi dengan pelayanan publik yang berkualitas, dan setara. Hal itu dikemukakan oleh Anggota Komisi-II DPRD Kaltim, Sigit Wibowo. Dirinya mengatakan, adanya ketimpangan pelayanan, yang masih kerap dirasakan oleh masyarakat Kaltim, saat di lapangan.

“Buat apa kasih BPJS gratis, beasiswa, kalau saat warga datang ke rumah sakit (RS), malah tidak dilayani dengan baik? Kalau bayar sendiri, senyumnya beda. Itu yang masih sering terjadi,” jelas Sigit Wibowo, belum lama ini.

Bankaltimtara Dari Impian Jadi Kenyataan
Bankaltimtara Dari Impian Jadi Kenyataan

Dirinya bahkan mengakui, lebih memilih mengakses layanan di klinik swasta, meski harus membayar. Karena merasa pelayanan yang diberikan, jauh lebih cepat, dan profesional.

“Bayar 150 ribu, langsung dicek, dikasih infus. Selesai. Sementara di rumah sakit umum (RSU), prosesnya panjang, tapi hasilnya belum tentu memuaskan,” kata Sigit, sapaan akrabnya, baru-baru saja.

Sigit menekankan, bahwa ukuran keberhasilan program pemerintah, semestinya tidak hanya dilihat dari sisi realisasi anggaran, atau kuantitas. Tetapi juga kualitas pelayanan, yang dirasakan langsung oleh masyarakat.

Sigit menambahkan, program P3K, dan beasiswa ini yang kerap diklaim berhasil. Namun masih minim evaluasi, dari sisi dampak, dan efektivitasnya pada warga.

“Pertanyaannya, bukan hanya berapa orang yang pakai BPJS. Tapi bagaimana mereka dilayani? Itu yang seharusnya jadi indikator utama,” tegas Sigit, Legislator dari PAN ini.

Dirinya juga mengangkat perbedaan pelayanan. Antara peserta BPJS Kesehatan, dan BPJS Ketenagakerjaan, karena menurutnya sangat mencolok. Terutama saat mengakses layanan di rumah sakit swasta.

Sigit mempertanyakan keadilan, dalam sistem tersebut. Terlebih, ketika pemerintah menyatakan telah menghapus sistem kelas, dalam layanan BPJS.

“Katanya kelas dihapus, tapi nyatanya perlakuan ke peserta kelas-3 masih beda. Ini harus jadi perhatian,” ungkap Sigit, Politisi dari Daerah Pemilihan (Dapil) Balikpapan ini.

Dirinya mendorong, agar rumah sakit swasta diberi peran lebih besar. Terutama dalam melayani peserta BPJS. Agar beban pelayanan bisa dibagi, dan masyarakat memiliki lebih banyak pilihan fasilitas kesehatan (Faskes), dengan standar mutu yang lebih baik.

“Rumah sakit swasta banyak yang berkualitas. Kalau mereka bisa bantu, kenapa tidak dilibatkan? Jangan semua bertumpu di rumah sakit pemerintah saja,” tandas Sigit.

Menutup pernyataannya, Sigit meminta Komisi-IV DPRD Kaltim, sebagai mitra sektor kesehatan. Untuk tidak hanya memantau jumlah program. Tetapi juga secara serius, mengevaluasi kualitas pelayanan di lapangan. (Adv/DPRD Kaltim)

Tinggalkan Balasan