Jejak Digital Bisa Jadi Batu Sandungan, Dispora Ingatkan Pemuda Kaltim Bijak Bermedsos
Jejak Digital Bisa Jadi Batu Sandungan, Dispora Ingatkan Pemuda Kaltim Bijak Bermedsos. Tampak berbagai pelatihan dan sosialisasi mengenai digital serta pemahaman Iptek oleh Dispora Kaltim pada berbagai ratusan pemuda di daerah-daerah 10 kota kabupaten se-Benua Etam terus dilakukan.
![]()

AspirasiNews.id, Samarinda- Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kalimantan Timur (Kaltim) mengingatkan para pemuda, untuk lebih bijak mengelola media sosial (Medsos). Agar tidak meninggalkan jejak digital negatif, yang berpotensi merugikan masa depan. Peringatan ini dikemukakan oleh Penelaah Teknis Kebijakan Bidang Pengembangan Pemuda Dispora Kaltim, Rusmulyadi belum lama ini.
Karena medsos itu bagai pisau bermata dua. Bisa bermafaat jika digunakan untuk mencari informasi terkini, dan untuk mendukung promosi agar cepat penyebarannya. Tetapi akan membuat pengelolanya atau admin sang empunya menjadi sasaran hujatan, saat digunakan dengan secara ugal-ugalan dan melewati batas norma susila masyarakat yang berlaku. Seperti ujaran kebencian, penghasutan, bully dan hal negatif lainnya.

“Jangan pernah meninggalkan jejak digital yang jelek, bermedia sosial itu yang baik saja,” tegas Rusmulyadi di Kantor Dispora Kaltim, Gedung Kadrie Oening (GKO) Tower, Jalan PM Noor, Sempaja Samarinda, baru-baru ini.
Rusmulyani menilai, banyak anak muda saat ini yang abai. Yakni masih meremehkan dampak dari konten yang mereka sebarkan. Padahal, informasi yang dibagikan di media sosial, termasuk akun pribadi, dapat diakses oleh siapa saja seluruh dunia.
Menurut Rusmulyadi, setiap unggahan, komentar, atau opini yang dibagikan di media sosial akan terekam secara permanen di dunia digital. Terkadang hal ini bisa menjadi penghalang dalam perjalanan karier seseorang di masa depannya.
“Ketika menulis apapun di media sosial, terutama di akun pribadi. Ingat bahwa siapapun bisa membaca komentarmu,” beber Rusmulyadi mewakili Kepala Dispora Kaltim, HM Agus Hari Kesuma (AHK).
Rusmulyadi juga menekankan, dalam membangun personal branding bisa melalui medsos. Yakni caranya dimulai dari bagaimana seseorang menampilkan diri secara apik dan baik di media sosialnya. Pemilihan kata, topik unggahan, hingga interaksi dengan pengguna lain. Ini akan menjadi cerminan karakter yang dilihat oleh publik mengenai diri seseorang tersebut.

“Kalau tulisanmu bagus, orang akan menilai kamu pemuda yang baik. Tapi kalau suka mencaci, publik akan menilai sebaliknya,” ungkap Rusmulyadi.
Rusmulyadi menuturkan, di media sosial harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Yakni sebagai sarana membentuk citra diri yang profesional, inspiratif, dan positif. Hal ini penting, karena dunia digital kini tak terpisahkan dari kehidupan nyata, termasuk dalam membangun reputasi.
“Personal branding itu mulai dari media sosial dulu. Kalau akunmu isinya keluhan atau cacian, orang bisa menganggap kamu pemuda yang pesimis. Tapi kalau kontennya inspiratif, akan dilihat sebagai pemuda optimis,” tutur Rusmulyadi.
Pihaknya juga mengingatkan, bahwa keterbukaan informasi saat ini menuntut pemuda untuk selektif. Terutama dalam menyaring dan membagikan konten. Sikap kehati-hatian akan membantu menjaga reputasi. Ini tentunya akan sangat berguna untuk masa depan, baik secara profesional maupun sosial.
Rusmulyadi mengungkapkan, media sosial kini telah menjadi “wajah kedua” seseorang. Cara menggunakannya akan sangat menentukan persepsi publik. Bahkan bisa sebagai peluang yang akan terbuka di kemudian hari.
“Gunakan media sosial untuk menunjukkan potensi, karya, dan gagasan positif. Karena di era digital ini, media sosial adalah cermin diri yang akan selalu diingat orang,” pesan Rusmulyadi. (Adv/Adm1)
